.:: Pray For PUNK ACEH ::.


 JIKA MEMANG DALAM KONSER ITU TERDAPAT BEBERAPA ANAK PUNK YANG MELANGGAR HUKUM, MAKA HANYA BEBERAPA SAJA YANG DITAHAN. PEMBINAAN DENGAN DALIH SYARIAT SAMA SEKALI TAK MENDASAR. -HENDRA FADLI, KOORDINATOR KOMISI ORANG HILANG DAN TINDAK KEKERASAN (KONTRAS) ACEH.  
#PrayForPunkAceh
(Source: nasional.vivanews.com)


 ATAS DASAR APA MEREKA DITAHAN DAN DIBINA DENGAN CARA-CARA MILITER, KENAPA TIDAK DI PANTI SOSIAL ATAU LEMBAGA LAIN SAJA. KONSTITUSI KITA MENJAMIN KEBEBASAN BEREKSPRESI SEJAUH TIDAK MELANGGAR ATURAN YANG ADA, -HENDRA FADLI, KOORDINATOR KOMISI ORANG HILANG DAN TINDAK KEKERASAN (KONTRAS) ACEH. 
#PrayForPunkAceh
(Source: nasional.vivanews.com)


 KALAU ADA YANG MABUK-MABUK ITU KAN CUMA SATU DUA ORANG, KENAPA PULAK HARUS SEMUANYA YANG DIBASMI. ANAK PUNK DI BANDA ACEH INI BUKAN GELANDANGAN, SAYA SENDIRI KULIAH DAN KAMI BUKAN ANAK-ANAK YANG TIDAK PUNYA PENDIDIKAN. -JUANDA, PUNKER DARI ACEH. 
#PrayForPunkAceh
(Source: nasional.vivanews.com)


 RELIGION = FASCISM | PUNK IS NOT CRIME 
#PrayForPunkAceh
(Source: ru.indymedia.org.)

 KAMI TIDAK AKAN MENTOLERIR SETIAP AGAMA YANG MEMEGANG KEKUASAAN ATAS KEBEBASAN HIDUP SETIAP MANUSIA, KHUSUSNYA TERHADAP SUBKULTUR KAMI. JADI PADA HARI YANG SAMA, KAMI BERKUMPUL DAN MELAKUKAN AKSI PROTES DI TEMBOK PAGAR KEDUTAAN BESAR INDONESIA. KAMI PERCAYA BAHWA SOLIDARITAS HARUS DIMULAI PADA TINGKAT SUBKULTUR. 
#PrayForPunkAceh(Source: ru.indymedia.org.)

.:: Makassar For PUNK Aceh ::.

Sekitar 100 anggota komunitas Punk se-Makassar berkumpul di puing-puing gedung bekas departemen store Harapan Baru, Tamalanrea. Mereka punya satu tujuan, melakukan konsolidasi guna menggelar aksi menolak penggundulan anak punk Aceh.

Para Punkers Makassar ini berkumpul sejak Senin (19/12/2011) sore. Para Punkers se-Makassar juga rencananya akan menggelar long march dan aksi teatrikalnya di ruas-ruas jalan Makassar, pada Rabu mendatang (21/12).

Menurut salah satu Punker Makassar Ichal Om saat ditemui detikcom, penangkapan 65 anak Punk Aceh yang dilakukan oleh aparat kepolisian merupakan sebuah pelanggaran Hak Asasi Manusia dan tidak menghargai kebebasan berekspresi seperti apa yang dilakukan oleh para anak Punk.

"Dari dulu Punk bisa hidup berdampingan dengan semua kalangan masyarakat, kenapa baru sekarang mereka dipermasalahkan, bentuk rambut seseorang itu hak masing-masing pribadi, kita menentang keras adanya pencukuran tersebut, kita hidup bukan di negara yang totalitarian atau berdasar satu agama tertentu saja," terang Ichal.

Ichal menambahkan, segembel apa pun gaya fashion para anak Punk, namun mereka bukan sampah masyarakat yang bisa disewenang-wenangi oleh aparat. Menurut Ichal, gaya fashion, gaya bermusik atau cara mereka hidup merupakan sebuah pemberontakan dari pola hidup kaum mainstream. Prinsip 'Do it Yourself' atau kemandirian senantiasa dijunjung tinggi oleh para anggota komunitas Punk.

"Orang-orang melihat Punk dari luarnya saja, kalau pun ada anak Punk yang nge-boat atau minum, di kalangan luar Punk pun juga banyak, namun di kalangan Punk sendiri tidak ada yang korupsi seperti yang dilakukan oleh para elit yang merasa dirinya kaum terpelajar," tandas Ichal sambil memangku anaknya yang masih balita.

.:: Solidaritas For PUNK ACEH ::.

Puluhan anak punk (punkers) menggelar unjuk rasa dengan menggunting rambut mereka ala mohawk di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Sabtu, 17 Desember 2011. Aksi ini merupakan gerakan solidaritas atas kejadian tidak semena-mena yang dilakukan polisi di Aceh saat penertiban konser amal di Taman Budaya Banda Aceh, Sabtu, 10 Desember 2011.

Selain memotong rambut ala mohawk, mereka juga menggelar spanduk yang menolak tindakan yang menondai hak asasi manusia. anak muda ini meminta polisi menangkap tukan korupsi dan bukannya mereka. 

Penertiban konser musik di Taman Budaya Banda Aceh terpaksa ditertibkan karena tidak mengantongi izin. Tapi penertiban itu berujung pada razia anak punk saat konser yang digelar komunitas 'Street Punk'. Padahal dana yang berhasil dikumpulkan dari konser akan disumbangkan ke panti asuhan.

Sebanyak 65 anak punk dari berbagai provinsi di pulau Sumatera dan Jawa yang terjaring digunduli dan direndam di sebuah kolam di Sekolah Polisi Negara (SPN) Seulawah, Kabupaten Aceh Besar. Mereka juga dibina selama 10 hari.

Kritik datang dari berbagai kalangan aktivis. Mereka mempertanyakan dasar penahanan dan pembinaan dengan cara militer. Pembinaan di panti sosial atau lembaga lain dianggap sudah cukup. Tapi kejadian ini telah merusak kebebasan berekspresi.

Sebelumnya, Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengaku punya alasan merazia para punker. Ia menilai, bahwa anak punk itu sudah meresahkan dan mempengaruhi generasi muda di Banda Aceh untuk mengikuti gaya hidup mereka.

.:: Liric Lagu Punk Rock Jalanan ::.

Punk Rock Jalanan
Sungguh ku menyesal telah mengenal dia
Dan aku kecewa telah menyayanginya
Dan aku tak akan mengulang kedua kalinya

Mungkinkah rindu dihati gelisah tak menentu
Berawal dari kita bertemu kau akan ku jaga

Ku ingin ngkau mengerti
Betapa kau ku cinta
Hanya padamu aku bersumpah
Kau akan ku jaga sampai mati

Ku ingin tau sapa namamu
Dan ku ingin tau di mana rumahmu
Walau sampai akhir hayat ini

Jalan hidup kita berbeda
Aku hanyalah punk rock jalanan
Yang tak punya harta berlimpah, dirimu sayang

Ku tunggu kau ku tunggu
Kunanti kau ku nanti
Walau sampai akhir hayat ini
2x

Ku kira kau setia padaku
Ternyata kau menduakan ku
Sungguh hati ku tak menduga

Dan juga ini yang ku alami
Perjalanan cinta selama ini
Kukira kau setia padaku
Ternyata kau menduakanku

.:: Sejarah Punk Rock Jalanan ::.

Tersebutlah seorang pemuda berusia 15 tahun. Namanya Tigor bersekolah kelas 3 SMP Kartika Balikpapan. Lahir di keluarga baik-baik. Konon ceritanya keluarganya yang tadinya kaya-raya mendadak jatuh miskin karena perusahaan sang ayah yang bergerak di bidang kontraktor sipil gulung tikar. Di tengah hobinya bergabung dengan klub BMX, Tigor tidak dapat memenuhi kebutuhannya untuk menyalurkan hobinya itu lebih dalam…yaitu memakai barang-barang bermerk di tubuhnya, membeli ornamen-ornamen untuk sepedanya, dan sebagainya. Belum lagi ejekan dari teman-teman satu klub yang selalu diterimanya. Sementara di satu sisi, terdapat sebuah klub juga yang menamai diri mereka ‘street guys‘. Dalam jiwanya yang labil, Tigor akhirnya membelot. Anak-anak ‘street‘ jiwa kekeluargaannya lebih besar dibanding anak-anak BMX yang berasal dari keluarga ‘berada’. Tigor mulai merokok, bahkan untuk anak seusianya yang masih tergolong belia, ia sudah mulai mengenal alkohol. Orang tuanya tak henti-henti menasehatinya, tapi doktrin punk terlalu kuat…isinya antara lain “Nazi fuck…polisi anjing…kita bukan budak, jangan mau disuruh-suruh…kami anti kemapanan!!!”. Orang tuanya hanya bisa mengurut-urut dada saja ketika Tigor membantah sewaktu disuruh membuang sampah rumah tangga mereka di tempat pembuangan sampah yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Hingga suatu waktu sang ayah marah besar ketika Tigor membentak beliau hanya karna disuruh pergi ke warung makan. Kemarahan sang ayah membuat Tigor begitu sakit hati karena Tigor belum pernah melihat sang ayah semarah itu kepadanya. Tigor pergi dari rumah tanpa membawa baju ganti satupun. Ia pergi bersama kumpulan barunya yaitu ‘street guys‘ ato lebih kita kenal dengan nama anak punk yang sesungguhnya keberadaan mereka sangat meresahkan masyarakat sekitar dan selalu membuat para polisi jengkel. Di sinilah petualangan Tigor dimulai. Bersama kumpulan barunya ia ikut mengamen di lampu merah, jika lapar dan tidak cukup uang ia mentegakan dirinya mengorek-ngorek tempat sampah demi mengobati perutnya yang sangat kelaparan. Sementara ayah dan ibunya menangis berhari-hari di rumah, berharap Tigor, anak laki-laki satu-satunya mereka segera pulang ke rumah. Tigor memiliki seorang kakak perempuan yang kemudian diasuh oleh tantenya setelah mereka jatuh miskin. Akhirnya suatu saat ibunya mendapati anak lelakinya itu sedang mengorek sebuah tong sampah. Kulitnya bertambah hitam, tubuh jangkungnya terlihat semakin kurus, rambutnya yang hitam legam bagus berubah menjadi model mohawk yang tak beraturan dan berwarna merah yang entah mungkin dari cat rambut murahan. Ibunya menangis melihat anaknya itu dan memintanya pulang ke rumah. Tapi Tigor tetap membantah sampai akhirnya temannya membujuknya untuk pulang…dan pulanglah ia. Ayahnya mulai mengalah padanya. Motor satu-satunya yang tersisa di rumah itu khusus untuk Tigor pakai. Tigor mulai mau sekolah lagi, tapi di akhir pekan, tak ada yang bisa menghalangi langkahnya untuk pergi ke Samarinda, 2 setengah jam dari Balikpapan waktu tempuhnya, bersama anak-anak punk. Namun ayah dan ibunya tak begitu khawatir karena di Samarinda banyak tante-tante dan sepupunya. Sampai akhirnya ia berkenalan dengan seorang gadis kelas 3 SMP di SMPN 2 Samarinda bernama Liza. Kebetulan Liza adalah teman satu sekolah sepupunya. Tigor pulang ke Balikpapan dengan hati berbunga-bunga. Bertambah rajinlah ia berkunjung ke Samarinda karena gadis bernama Liza ini. Orang tuanya sungguh khawatir sesuatu terjadi padanya sepanjang perjalanan lintas kota itu. Akhirnya kelulusan tiba juga. Tigor masuk ke STM Swasta satu-satunya di Balikpapan, jurusan elektro. Belum selesai cobaan yang harus Tigor dan keluarganya terima, berawal dari kecurigaan kedua orang tuanya kalau si anak buta warna karena Tigor sangat susah membedakan antara warna merah muda dan hijau, ditambah lagi dengan sang ayah adalah seorang yang buta warna. Akhirnya keluarga membawanya ke puskesmas, namun kata puskesmas hanyalah kurang latihan. Oleh karena itu kedua orang tuanya tetap nekad memasukkan ke STM yang terdekat dari rumahnya.Namun karena sudah dilatih berulang-ulang si Tigor belum juga bisa menghafal warna-warna tersebut, dengan bantuan sang tante, kemudian Tigor kembali untuk melakukan pemeriksaan dan dibawa ke dokter spesialis mata. Tigor dinyatakan buta warna parsial (60%). Bermaksud baik, sang ibu membawa surat pernyataan dari dokter itu ke pihak sekolahnya agar anaknya dipindahkan jurusan ke jurusan otomotif saja. Ternyata pihak sekolah malah beranggapan bahwa anak buta warna sama sekali tidak bisa masuk di STM di jurusan apapun, jadi lebih baik pindah ke sekolah umum saja. Padahal STM tersebut sebelumnya tidak melakukan test buta warna terhadap calon-calon siswanya maupun meminta surat pernyataan tidak buta warna terlebih dahulu dari para calon siswanya, seperti yang dilakukan oleh STM negeri.
Di sekolah teman-teman memperlakukannya seperti orang yang dikucilkan, sikap sang guru juga kurang baik kepadanya (karena Tigor memang bukan siswa teladan di sekolahnya). Akhirnya Tigor membuat keputusan untuk berhenti sekolah. Ia hanya mempunyai ijazah SMP dan tambah menjadi-jadi kehidupan malam dijalaninya di usianya yang baru 16 tahun itu. Suatu hari yang paling membuat orang tuanya shock adalah Tigor yang baru pulang dari Samarinda, membawa Liza pacarnya ke rumah. Saat itu memang sang kakak sedang nginap juga di rumahnya.
Ketika ditanya oleh orang tuanya, katanya si Liza akan menginap semalam, mau jalan-jalan dulu di Balikpapan, tidurnya bareng kakaknya saja. Ketika orang tuanya menanyai Liza apakah sudah ijin kepada orang tuanya, Liza bilang sudah. Walau masih sedikit curiga karena Liza masih menggunakan seragam pramuka, namun orang tua Tigor cukup lega karena menurut Liza ia sudah meminta ijin sebelum ke Balikpapan. Sampai kemudian terjadi kehebohan besar. Tantenya Tigor telpon ke rumah menanyai Tigor tentang keberadaan Liza karena orang tua Liza membuat ribut di rumah tantenya tersebut. Ketika mengetahui Tigor membawa Liza ke Balikpapan, tantenya langsung menyuruh mamanya Liza berbicara sendiri kepada ibunya Tigor. Ibu meminta mamanya Liza untuk tidak terlalu khawatir, namun mamanya Liza tetap bersikukuh meminta alamat Tigor di Balikpapan. Di tengah tidur pulasnya Liza, jam 4 subhu, orang tuanya menjemput menggunakan taxi argo. Mereka tampak sangat khawatir karena Liza adalah anak semata-wayang mereka. Akhirnya Liza dilarang orang tuanya menemui Tigor lagi. Tigor datang ke Samarinda sudah tidak disambut baik lagi oleh keluarganya Liza. Orang tua Liza tidak suka Tigor bergaul dengan Liza karena Tigor hanyalah seorang yang lulusan SMP, dan seorang punker. Liza berasal dari keluarga kaya.
Tigor patah hati berat dengan Liza. Tigor mencoba untuk bunuh diri, namun teman-teman satu kumpulannya mencegahnya. Kehidupan Tigor tambah lekat pada kehidupan punk. Waktunya habis untuk mengamen dan berkumpul bersama anak-anak punk di jalanan. Puskib adalah tempat berkumpulnya mereka. Lampu merah adalah tempat mereka mengamen. Lagu andalan anak-anak punk berjudul“Punk Rock Jalanan”. Lagu itu selalu Tigor nyanyikan saat mengamen, karena Tigor merasa bahwa lagu itu sangat sesuai untuknya, dia memang seorang “Punk Rock Jalanan”.
Sewaktu orang tuanya memohonnya melepaskan diri dari punk, Tigor berkata, “Bu, mereka juga keluargaku. Sewaktu motorku kehabisan bensin di kilometer 20-an, di tengah hutan sana, aku menghubungi seorangpun temanku tak ada yang bisa datang menolongku, tapi ketika aku menelpon Dedy, salah seorang teman punk, semua anakpunk Balikpapan datang menghampiriku, jalan kaki mereka dari kota demi aku, menemaniku mendorong motor sampai aku bisa mengisi bensin motorku. Aku menangis dalam hati saat itu. Karena sebenarnya saat itu aku sudah ingin lepas dari mereka. Saat Liza meninggalkanku, punk tidak pernah meninggalkanku.”
Orang tuanya terharu dan tidak sanggup berkata apapun lagi. Punkmemang meresahkan masyarakat, mungkin karena mereka terkesan urakan, tapi sikap kekeluargaan mereka terhadap sesamanya patut diacungi jempol. Begitulah kisah Tigor, Punk Rock Jalanan.

... Profil ...

Foto saya
Makassar, Indonesia
... Kami hanya ingin hidup BEBAS tanpa ada penindasan dan tertindas ...

... Komunitas ...