.:: Kepemimpinan kolektif ::.

Eksistensi negarawan sejatinya memiliki berbagai kelebihan yang pantas dan layak dipertaruhkan dalam sebuah kompetisi dan kepentingan yang kolektif dan lingkupnya yang amat luas. Indonesia sebagai kesatuan dari berbagai kondisi SDM dan SDA yang teramat kompleks, bukanlah realitas sosial final yang mudah dibaca dalam lembaran kertas, namun sebagai entitas sosial yang perlu dikaji ulang secara kritis dan dinamis terus-menerus. Mencermati simpul-simpul kekuatan dan kekuasaan yang berada di lingkaran elite hanya akan membutakan penglihatan dan penghayatan realitas sesungguhnya yang terjadi pada mayoritas rakyat. Jika masih ditemukan kemiskinan, kelaparan, gizi buruk, drop out SD, SMP, dan pengangguran, rakyat dengan mudah merasakan apakah masih dibutuhkan pemimpin atau tidak. Demikian juga jika masih ditemukan berbagai pelanggaran norma-norma sosial, moral, dan hukum positif dalam masyarakat. Kepemimpinan kolektif yang dilahirkan melalui demokrasi sejatinya melahirkan pemimpin yang memiliki komitmen pada nasib rakyat pemilihnya. Namun, karena SDM rakyat yang masih berkutat dengan segala keterbatasannya sehingga potensial untuk diiming-imingi dengan materi ala kadarnya (kasus parpol, transport bensin, dan lain-lain.), substansi demokrasi berganti dengan demonstrasi dan tawuran, termasuk praktik koalisi dan konflik ideologi yang telah membingungkan dan sulit dipahami.
Dalam situasi negara, elite, dan rakyat seperti itu, siapa pun pemimpin, ideologi macam apa pun, tak akan mampu menarik perhatian rakyat, kecuali berlomba pada tataran substantif perubahan dan dinamika mayoritas rakyaMengurangi berbagai pelanggaran, penyelewengan birokrasi di tingkat elite kekuasaan, tentunya dinilai sebagian orang tidak akan populer. Namun, akan sama halnya, jika dibiarkan, sama dengan menyimpan bom waktu. Kepemimpinan kolektif yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang benar-benar memiliki komitmen pada perubahan, pembenahan birokrasi, membersihkan pejabat bermasalah demi kepentingan perubahan nasib rakyat banyak. Paling tidak, rakyat merasakan kehadiran seorang pimpinan dan dibutuhkan dalam kehidupannya.

.:: Soekarno dan Hatta Itu Antikapitalis ::.


Mereka dipengaruhi oleh Zeitgeist atau semangat zaman yang terdapat di Eropa pasca Perang Dunia I (1914-1918) yaitu membebaskan orang kecil, golongan buruh dari kungkungan keterbelakangan, kemiskinan, mengangkat martabat kaum pekerja menjadi layak menurut perikemanusiaan. Mereka menganut ideologi sosialisme. Mereka menolak kapitalisme.

Hatta dan Sjahrir yang berada di Negeri Belanda sebagai mahasiswa pada tahun 1920-an dan awal 1930-an menjadi sosialis-demokrat, mempelajari Marxisme yang digunakan sebagai alat metode untuk memahami masyarakat.

Soekarno di Indonesia yang menuntut pelajaran di Sekolah Tehnik Tinggi di Bandung melalui buku-buku yang diterimanya dari Belanda, yang dibacanya dengan cermat, meskipun tidak pernah melawat ke Barat, namun sampai juga pada muara yang sama seperti Hatta dan Sjahrir yaitu penganut sosialisme, walaupun disajikan sebagai sebuah variant dari sosialisme, lalu menyebutnya sosialisme alaIndonesia.

Maka Soekarno-Hatta-Sjahrir yang pada awal revolusi memegang peran penting sebagai pemimpin bangsa, dan secara formal dalam pemerintah RI bertugas masing-masing sebagai Presiden, Wakil Presiden dan Perdana Menteri yang pertama adalah bersikap antikapitalis.

Ini dapat dimengerti. Dalam perjuangan mereka ke arah Indonesia Merdeka mereka menghadapi kolonialisme Belanda yang dibelakangnya berada kaum kapitalis Belanda. Untuk memerdekakan rakyat Indonesia mereka pada instansi pertama adalah nasionalis. Dan disamping sebagai nasionalis mereka juga sosialis.

Dalam renungan 17 Agustus kenangan saya kembalai ke awal tahun 1945 ketika bangsa dan negeri kita merintih derita di bawah cerpu kaum penindas dan saya menjadi reporter pada harian "Asia Raja".

Masa itu kaum cerdik pandai kita lagi memikirkan bagaimana konsep dan bentuk ekonomi yang hendak kita jalankan. Pada awal Januari 1945 sejumlah pengusaha golongan Islam bertemu, lalu mendirikan Susunan Ekonomi Bangsa Indonesia Islam.

Pada tanggal 6-8 April di Bandung diselenggarakan suatu pertemuan untuk merancang sebuah rencana bagi suatu ekonomi nasional.

Di situ Hatta dengan dihadiri oleh Soekarno dan pengusaha Agoes Moesin Dasaad mengungkapkan pandangan-pandangannya mengenai suatuekonomi nasional yang dinamakannya ekonomi kerakyatan sebagai antitesa bagi ekonomi kolonial yang adalah suatu ekonomi eksploitasi.

Dalam pertemuan di Bandung itu tidak hadir orang-orang Tionghoa dan Arab dari kalangan dagang. Pada bulan Juni 1945 didirikan organisasi ketiga yakni Panitia Pemilih Bangsa Indonesia Menjadi Pengusaha Kebun Milik Musuh.

Tujuannya ialah agar onderneming Belanda diambilalih oleh pihak Indonesia, dan secara jelas dikatakan pula bahwa orang-orang Tionghoa tidak dibolehkan masuk di situ.

Pada tanggal 20-24 Juli kembali di Bandung diselenggarakan sebuah pertemuan dan di situ Hatta dengan dihadiri oleh Soekarno mengajukan Ekonomi Baru yang berdasarkan suatu sistim koperasi, di mana pemerintah mengendalikan dan menjalankan perusahaan-perusahaan besar.

Salah satu resolusi yang diambil mengenai didirikannya Persatuan Tenaga Ekonomi Bangsa Indonesia yang diketuai oleh Syafruddin Prawiranegara SH. Seminggu kemudian Hatta membuka dengan resmi kantor pusat PTEBI tadi yang disebut Pusat TenagaEkonomi. Itulah buah pikiran Hatta mengenai ekonomi nasional.

Dalam pada itu Badan Persiapan Urusan Kemerdekaan sudah berjalan di Jakarta dan dalam menyusun konstitusi atau undang-undang dasar Hatta memasukkan kedalamnya pasal yang menyebut tentang ekonomi yang berdasarkan kekeluargaan dan yang dilaksanakan untuk kemakmuran sebesar-besarnya bangsa Indonesia.

.:: Dialektika Ideologi ::.

Ideologi sebagai wacana, hakikatnya merupakan kesatuan gagasan, keyakinan, dan pemikiran yang terus ada menyejarah dan tak pernah hilang. Sebaliknya, dalam tataran praksis, ideology (politik atau ekonomi) telah mengalami berbagai interpretasi dan pengertian. Dalam tataran modern, ideologi memiliki makna negatif atau jelek (perioratif) sebagai teorisasi atau spekulasi dogmatik, khayalan kosong, dan tidak realistis. Ideologi juga memiliki makna positif (melioratif) sebagai setiap sistem gagasan yang mempelajari keyakinan-keyakinan dan hal-hal yang filosofis dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial budaya. Dalam ranah implementatif, berbagai macam ideologi (liberal klasik, neoliberalisme, marxis,
sosialis, atau Pancasila sekalipun) mengalami dekonstruksi dan interpretasi yang beragam sesuai pengalaman dan kesadaran serta nilai-nilai yang diyakini individu sebagai sesuatu yang benar. Demikian juga ideologi suatu negara, yang dipandang terbaik oleh para elitenya, belum tentu akan sama dimaknai oleh rakyatnya. Kenyataannya suatu ideologi tentu akan sangat tergantung dari sejauhmana ideologi mampu menjawab berbagai kepentingan praktis para penganutnya. Contoh ekstrem, banyak orang meragukan kemampuan neoliberalisme sebagai kelanjutan modernisme untuk menjawab sistem ekonomi Indonesia. Begitu juga halnya dengan sosialisme, padahal keduanya bertujuan sama yang substantif yakni menyejahterakan rakyat dengan cara yang berbeda. Demikian juga kehadiran Pancasila dengan segala indikator dan metode sosialisasi, penataran yang begitu masif pada rezim penguasa terdahulu, ternyata tak memiliki relevansi dengan berkurangnya perilaku KKN yang membuat negeri ini terjebak dalam lingkaran keterpurukan dalam berbagai dimensi. Sungguh suatu dialektika ideologi yang sulit dipahami dengan logika dan nurani yang umum.



.:: Anti Kapitalisme ::.

Buku adalah salah satu sarana supaya kita tidak membuat retorika anti kapitalis murahan. Dari sebuah buku kita akan mendapat penegtahuan yang relevan tentang kapitalisme. Jadi seandainya kita mengatakan “anti kapitalisme” kita tahu benar apa yang kita katakan dan dapat dipertanggungjawabkan. Ada banyak buku yang membahas tentang kapitalisme. Dua buku yang saya anjurkan adalah Joseph Stiglitz Roaring Nineties (Dekade Keserakahan)Marjin Kiri dan Robert T Kiyosaki Rich Dad Guide to Investing Gramedia. Kedua buku ini bertolak belakang satu merupakan buku yang mengupas borok liberalism dan kapitalisme sementara yang satunya lagi adalah buku yang mengajarkan cara menjadi kapitalis yang sukses. Kiyosaki dalam buku ini mengajarkan cara-cara menajdi seorang investor yang berhasil. Salah satu nasehatnya yang bisa kita tangkap adalah “curangi pajak”. Seperti buku-buku lain Kiyosaki, pendidikan masih saja menjadi barang celaan. Saya nggak suka hal ini, menurut saya ada manusia yang suka mengembangkan uang dan hartanya, tapi ada juga orang yang ingin mengembangkan ilmu pengetahuan demi kehidupan manusia. Hal lain yang membuat saya tidak suka pada buku Kiyosaki adalah pendapatnya tentang kuadran ESBI. Padahal tanpa kelas pekerja tidak akan ada orang-orang di kuadran B dan I. Tapi dalam menjelaskan pola pikir kapitalisme buku ini bisa memberi kita gambaran yang bagus. Tentang real estate, para investor yang bersembunyi, cara bisnis orang sono. Sebagai sebuah penawar racun buku Kiyosaki ini, Roaring Nineties dari Stiglitz cukup ampuh untuk tidak membuat kita terjebak dalam pola pikir kapitalis Kiyosaki. Stiglitz membongkar sisitem ekonomi Amerika yang rapuh, deregulasi, praktek akutansi yang buruk, juga tabiat korporasi dan eksekutif Amerika yang tamak. Tetapi menurut pandangan Emmanuel Todd (Prancis) Stiglitz tetap memegang prinsip-prinsip pasar bebas dan tak bisa berbuat banyak ketika berbicara tentang ketiadaan apparatus peraturan global. Walau begitu saya akui kalau Kiyosaki dalam memberi motivasi tentang wirausaha itu cukup bagus. Dari buku Kiyosaki kita dapat menangkap kalau ingin konsen bisnis ya konsenlah pada bisnis itu jangan takut gagal. Kedua buku ini bisa menjadi referensi saat kita membicarakan tentang kapitalisme apalagi anti kapitalisme, karena kita melihat dari dua sudut pandang. Seperti istilah “kenalilah musuhmu”

.:: kapitalisme modern ::.

KAPITALISME berasal dan kata “capital” yang artinya modal dan “isme” yang artinya paham. Jadi dan kata tersebut, kapitalisme dapat diartikan paham tentang modal. Namun, kita tidak dapat megartikan kapitalisme sesimpel itu. Kita harus memahami tentang teori-teori dan sejarah dan kapitalisme sendiri.
Kapitalisme adalah suatu mode of production yang didasari produksi komoditas sistematik dan terkait produksi di bawah pegaruh modal-produksi, baik untuk dipertukarkan maupun keuntungan berdasar pada eksploitasi kerja. Kapitalisme merupakan sistem ekonomi yang didasarkan atas kepemilikan pribadi, yaitu penguasaan alat-alat produksi seperti industri dan sumber daya alam atau modal yang kemudian akan mempunyai hubungan-hubungan produksi dan melibatkan kelas tak bermilik untuk dijadikan sebagai pekerja dalam megembangkan modalnya.


.:: Anarki??? ::.

ANARKI ?

MANAKALA di berbagai tempat di Tanah Air dilanda kekacauan brutal dan di sana-sini sampai membawa maut, banyak orang bilang situasi itu anarkis. Anarki dinilai sama dengan segala hal buruk. Jangan-jangan ucapan itu keliru. Guna menguji keliru atau tidak, perlu ditelusuri hakikat anarki sebagaimana dimaksudkan para pemikir dan pengikut anarki sendiri, dalam bingkai sejarahnya.

Etimologi

KATA anarki adalah tiruan kata asing seperti anarchy (Inggris) dan anarchie (Belanda/Jerman/Prancis), yang juga cuma meniru kata Yunani anarchos/anarchia. Ini merupakan kata bentukan a (tidak/tanpa/nihil) yang disisipi n dengan archos/ archia (pemerintah/kekuasaan). Anarchos/anarchia = tanpa pemerintahan.

Cuma itu! Tidak kurang dan tidak lebih. Tidak/tanpa/nihil itu netral. Bisa negatif atau positif. Jika yang ditolak hal negatif, ia menjadi positif. Jika yang ditolak hal positif, ia memang menjadi negatif. Jadi, keserba negatifan anarki itu cuma tafsir. Misalnya tafsir para juragan pabrik kamus dan pembuatnya. Mungkin demi kepentingan ideologi tertentu, maka lahirlah kamus yang menyamakan anarki dengan segala hal buruk-salah-tercela.

Bukan Ideologi

Padahal, apalagi dalam bingkai kamus, anarki itu cuma teori. Ia bukan ideologi. Perbedaan dua hal itu perlu ditekankan, agar orang memakai sikap yang sama saat memaknai sebuah kata. Dalam teori, kita mempunyai ide dan bisa mengambil jarak dengannya. Dalam ideologi, kita dicaplok ide terkait, hingga sukar mengambil jarak dengannya - dan itulah agaknya yang terjadi dalam contoh pembuat dan juragan pabrik kamus tersebut, ialah mewujud nyatakan ideologi ke dalam kamus.

Kekosongan Pemerintahan

Dalam grup kamus berkaliber konglomerat mendunia seperti Webster misalnya, anarchy diartikan "kekosongan pemerintahan". Ini tepat. Tapi lalu ditafsir dan ditambah-bumbui, sehingga menjadi "sebuah keadaan ketiadaan hukum atau kekacauan politik sehubungan dengan kekosongan pemerintahan".

Hal tersebut disambut hangat perkamusan kita. Sampai kini masih banyak kamus bahasa Inggris/Belanda/Jerman/Prancis ke dalam bahasa Indonesia yang tanpa beban menyamakan anarki = kekacauan = huru hara = kacau balau.

Bahwa kekosongan pemerintahan memungkinkan kekacau balauan, tidak salah. Letak kesalahannya adalah: kemungkinan menggantikan subyek yang dimungkinkan. Pisau memang bisa membuat luka. Tapi kita tak bisa membuat kamus yang misalnya begini: knife = pembuat luka atau mes = haus darah. Knife (Inggris) dan mes (Belanda) itu artinya ya cuma pisau.

Dengarkan Konseptor atau Anarkis Sendiri

JIKA kita mau seimbang mengartikan anarki, ya harus ikhlas mendengarkan para konseptor dan atau sang anarkis sendiri. Ini hal yang normal saja, sebagaimana cara terhormat memahami Islam harus lewat orang Islam, memahami Katolik harus lewat orang Katolik, dan memahami Komunis harus lewat orang-orang Komunis. Kalau lewat orang-orang yang memusuhi mereka, ditanggung kacau balau!

Pluralitas Pandangan

Tapi, jumlah kaum anarkis banyak. Sebab keberadaan mereka sudah lebih dua abad. Pluralitas pandangan tak bisa dihindari. Meski demikian, garis merah anarkisme konsisten dan prinsip terfundamentalnya transparan. Maka ia mudah ditelusuri, sebab hakikat anarki itu cuma menyangkut empat garis merah berikut.

Pertama, anarki adalah perindu kebebasan martabat individu. Ia menolak segala bentuk penindasan. Jika penindas itu kebetulan pemerintah, ia memilih masyarakat tanpa pemerintah. Jadi, anarki sejatinya bumi utopis yang dihuni individu-individu yang ogah memiliki pemerintahan dan menikmati kebebasan mutlak.

Kedua, konsekuensi butir pertama adalah, anarki lalu anti hirarki. Sebab hirarki selalu berupa struktur organisasi dengan otoritas yang mendasari cara penguasaan yang menindas. Bukannya hirarki yang jadi target perlawanan, melainkan penindasan yang menjadi karakter dalam otoritas hirarki tersebut.

Ketiga, anarkisme adalah faham hidup yang mencita-citakan sebuah kaum tanpa hirarki secara sospolekbud yang bisa hidup berdampingan secara damai dengan semua kaum lain dalam suatu sistem sosial. Ia memberi nilai tambah, sebab memaksimalkan kebebasan individual dan kesetaraan antar individu berdasarkan kerjasama sukarela antarindividu atau grup dalam masyarakat.

Keempat, tiga butir di atas adalah konsekuensi logis mereaksi fakta sejarah yang telah membuktikan, kemerdekaan tanpa persamaan cuma berarti kemerdekaan para penguasa, dan persamaan tanpa kemerdekaan cuma berarti perbudakan.

Dari Awal Hingga Kini

PADA empat garis merah itulah anarki berkiprah sejak lahir sampai saat ini. Dimulai sekitar akhir abad XVII oleh kaum buruh di berbagai negara Eropa semisal Rusia dan Spanyol, anarkisme menyebar ke Asia dan AS.

Tokoh-tokoh anarkis awal yang terkenal adalah Max Stirner (1806-1856), Pierre-Joseph Proudhon (1809-1865), Mikhail Bakunin (1814-1876), Peter Krapotkin (1842-1921). Mereka tokoh-tokoh anarkis awal yang bukan hanya teoretis tapi berupaya mewujud nyatakan faham anarkisme dengan program-program yang sistemik.

Pelanjut

Setelah tokoh-tokoh tersebut tiada, anarkisme seolah-olah koma. Tapi tidak mati. Secara sporadis, terdapat banyak figur yang coba mengembangkan anarkisme di berbagai negara. Di AS bisa dijumpai Emma Goldman dan Alexander Berkman. Mereka berdua akhirnya dibuang pemerintah AS karena dianggap mengganggu stabilitas AS yang konon the land of the free. Di samping mereka, juga kita kenal Voltairine de Cleyre, yang terkenal dengan puisi-puisi anarkisnya.

Di Italia, gerakan anarkisme telah melahirkan cukup banyak penulis anarkis seperti Errico Malatesta, Luigi Galleani, Camillo Berneri, dan lain-lain.

Dari Rusia, Leo Tolstoi dikenal sebagai penulis anarkisme religius. Karya-karyanya mempengaruhi banyak manusia kualitas unggul semisal Mahatma Gandhi dan Dorothy Day, tokoh Catholic Worker Group. Filsafat mulur-mungkret Ki Ageng Suryamentaram dan atau Saminisme sekitar Blora yang eksentrik itu, siapa tahu juga mendapat ilham dari kenyentrikan anarkisme?

Keyakinan Anarkis

Sejumlah karya pikir para humanis dewasa ini semisal Noam Chomsky, Colin Ward, O'Hara dan Murray Bookchin, mengandung prinsip garis merah anarkisme. Bahkan mereka acapkali didaftar sebagai kaum anarkis. Muara dari deret panjang karya tulis dan berbagai kegiatan lain kaum anarkis adalah empat garis merah di atas. Untuk mengontrol konsistensi garis merah tersebut, berikut ini empat contoh keyakinan kaum anarkis.

Pertama, anarkisme adalah sebuah sistem sosialis tanpa pemerintahan. Ia dimulai di antara manusia, dan akan mempertahankan vitalitas dan kreativitasnya selama merupakan pergerakan dari manusia (Peter Krapotkin).

Kedua, penghapusan eksploitasi dan penindasan manusia hanya bisa dilakukan lewat penghapusan dari kapitalisme yang rakus dan pemerintahan yang menindas (Errico Malatesta).

Ketiga, kebebasan tanpa sosialisme adalah ketidakadilan, dan sosialisme tanpa kebebasan adalah perbudakan dan kebrutalan (Mikhail Bakunin).

Keempat, kami tidak perlu merangkul dan menggantungkan hidup kepada pengusaha kaya sebab ujungnya mereka untung dan kami buntung. Tanpa mereka, kami tetap bisa mengorganisasikan pertunjukan, acara, demonstrasi, mempublikasikan buku dan majalah, menerbitkan rekaman, mendistribusikan literatur dan semua produk kami, mengadakan boikot, dan berpartisipasi dalam aktivitas politik. Dan kami dapat melakukan semua itu dengan baik (O'Hara).

Menentang Tujuh Isme

AKIBAT logis sikap anarki di atas, maka ia menentang tujuh isme dan atau kondisi yang merecoki cita-citanya, sebagai berikut.

Pertama, melawan kapitalisme biang diskriminasi ekonomis ialah selalu berujung pada privilese lapisan atas. Kaum anarkis, sebagai bagian sirkuit masyarakat lapisan bawah, yakin bisa melakukan banyak hal secara independen.

Kedua, melawan rasisme. Kaum anarkis menandaskan semua bangsa, ras, warna kulit, dan golongan adalah sederajat.

Ketiga, melawan sexisme. Kaum anarkis menganggap semua jenis seks: wanita, pria, dan bahkah di luar dua jenis seks itu, memiliki hak yang sama atas apapun.

Keempat, melawan fasisme atau supranasionalis. Kaum anarkis beranggapan tak ada bangsa yang melebihi bangsa lain. Semua setaraf dalam perbedaannya.

Kelima, melawan xenophobia - ketakutan dan kebencian apriori pada hal baru atau asing. Kaum anarkis melawannya sebab xenophobia bisa berkembang jadi fasisme ialah anti terhadap dan menganggap buruk semua hal dari luar.

Keenam, melawan perusakan lingkungan, habitat dan segala bentuk perusakan dan atau tindakan kekerasan terhadap semua makhluk hidup. Maka kaum anarkis menentang segala bentuk percobaan dengan hewan. Itu berarti sewenang-wenang terhadap kehidupan. Padahal, kehidupan tak bisa diciptakan manusia, harus dihargai. Maka banyak kaum anarkis yang hidup vegetarian.

Ketujuh, melawan perang dan 1001 sumber, alat dan perkakasnya, misalnya militerisme. Bagi kaum anarkis, segala bentuk kekerasan atau penghancuran kehidupan adalah nista. Perang adalah sesuatu hal yang sangat tidak berguna bagi dunia dan penghuninya. Maka segala sumbernya harus segera dihapuskan.

Prakteknya?

MEMANG betul, seluruh uraian di atas cuma retorika kaum anarkis. Mungkin lalu dipersoalkan ketidak-cocokannya di dalam praktek. Itu soal terpisah. Bukankah perkara teori yang tidak cocok dengan praktek itu, bisa dijumpai hampir di semua isme dan pandangan hidup?

Tapi secara teoretis, pengidentikan anarki dengan huru hara dan atau kekacauan itu tidak tepat. Apalagi, ada kamus-kamus yang merumuskan anarki secara nekad. Misalnya, anarki adalah (1) sebuah keadaan tidak adanya hukum atau kekacauan politik sehubungan dengan kekosongan pemerintahan, (2) ketiadaan perintah alias kekacauan, dan (3) seseorang yang menggunakan maksud-maksud kekerasan untuk menggulingkan atau melawan pemerintahan.

Perlu Koreksi

Repotnya, banyak orang dan bukan cuma di Nusantara tapi banyak manusia di bumi sudah terbiasa menyamakan anarki dengan segala yang serba jelek. Umpama semua kamus yang mencetak pemahaman macam itu dikoreksi, apakah persepsi kita akan anarki lalu berubah? Kalau kita normal, mestinya ya berubah.

... Profil ...

Foto saya
Makassar, Indonesia
... Kami hanya ingin hidup BEBAS tanpa ada penindasan dan tertindas ...

... Komunitas ...