.:: Punk Muslim ::.


P-U-N-K, mendengar keempat huruf itu, nampaknya ada sebagian orang yang akan menutup kuping, menutup mata ataupun ingin me-remove kata itu dari benaknya karena trauma atas perilaku negatif yang pernah dirasakannya atau takut karena melihat penampilan para anak punk.
Kata ‘punk‘ sebenarnya biasa-biasa saja, namun yang membuat kata itu menakutkan adalah penganut kata-kata tersebut, atau penganut aliran musik keras yang selalu dikaitkan dengan punk. Entah benar atau tidak, banyak orang yang beranggapan dunia punk adalah dunia yang berkaitan tentang hal-hal yang dianggap negatif.

Di tempatku (Blora, Jawa Tengah), aku sudah terbiasa bergaul dengan anak-anak punk, karena mayoritas teman-temanku di Komunitas Anak Seribupulau adalah anak punk. Hampir bosan aku melihat anak punk, entah kutukan atau apa, setiap aku keluar kota, aku juga selalu menemui anak punk. Ironis? Tidak juga. Terlalu berlebihan? Sangat!

Terkadang persepsi orang terhadap anak punk sangat berlebihan. Akulah saksi hidupnya, Ariyanto ‘Petek’ dari Blora. Aku sering bersama mereka, susah senang bersama, berkarya dan berkreatifitas bersama. Contohnya, dengan mendaur ulang sampah, memahat, cukil kayu menggunakan pisau (cutter), melukis, dan masih banyak lagi. Dan yang pasti menggunakan imajinasi kita sendiri. Ya mungkin itu gambaranku mengenai anak punk di daerahku, walaupun tampang mereka beringas, tapi kreatifitas mereka lebih beringas dari tampangnya. Nasi telah menjadi bubur, namun anak-anak punk di sekitarku mampu mengubahnya menjadi bubur yang enak sekali, walaupun jiwa mereka sudah berkarat dengan aliran punk, mereka tetap kreatif dan inovatif, itulah sebabnya mereka masih bisa bertahan dan berkarya hingga detik ini. Aku pun bersyukur bisa berada di sekitar mereka.
Setelah disinggung, aku mulai bertanya, apa itu punk? Dari mana asal mula aliran punk itu? Aku pun yakin mayoritas anak-anak punk tidak tahu sejarah aliran punk yang mereka anut. Hanya petantang-petenteng dan ikut-ikut saja.

Pertanyaanku pun terjawab oleh ‘Paman Google’. Dikatakan, punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Punk berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik, anti pemerintahan, idealis, kritis dan atheis.

Harus kuakui, awalnya mereka hanya ikut-ikutan saja, tidak tahu arti punk sebenarnya. Itulah yang dialami oleh anak-anak punk di seluruh Indonesia. Berbeda sekali dengan anak punk di Inggris, mereka bukanlah anak-anak yang hanya hura-hura dan meresahakan para penumpang bus kota, melainkan para politisi yang selalu membaca koran, kritis, idealis, dan pengawas bagi negaranya.

Di sinilah telah terjadi pergeseran makna mengenai punk sesungguhnya, yang dinodai oleh perbuatan dan penampilan yang tidak mengenakkan mata, apabila kita melihatnya.

Itulah sekilas tentang dunia punk di kota tempatku tinggal. Di Ciputat, Tangerang Selatan, ternyata ada sebuah fenomena punk yang juga sangat menarik, yaitu Punk Muslim.

Punk Muslim? Apa itu? Aneh-aneh saja, nampaknya hanya isapan jempol semata, karena menurutku aliran punk adalah aliran yang meniadakan keberadaan Tuhan, jadi mana mungkin bisa berkolaborasi dengan agama.

Ya, seperti itulah aku memfatwakan kata ‘Punk Muslim’. Sekilas aku menafsirkan anak-anak punk sebagai segerombolan anak muda yang anti kemapanan, hidup di jalanan, menjadi pengamen, tindikan dan tato menghiasi tubuh mereka, berpakaian serba hitam serta doyan mabuk-mabukan. Su’uzon? Mungkin, tapi menurutku tidak juga, karena pesan yang kutangkap dari perilaku dan bahasa tubuh mereka seperti itu.

Alhamdulillah, penafsiranku salah besar, ternyata tidak semua aliran punk maupun anak-anak punk seperti itu. Nampaknya stereotip itu tidak melekat pada Punk Muslim. Ya, aku megetahuinya dari acara ‘Menelisik Lika-liku Kehidupan Punk Moslem’ yang diadakan oleh Lembaga Dakwah Kampus Syahid (LDK Syahid) di aula Student Center Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah (18/03). Dari talkshow tersebut aku mendapatkan ‘benang merah’ atas kegelisahanku, dan aku mulai meyakini, bahwa memang benar keberadaan Punk Muslim, dan kini tersebar di Indonesia (Jogjakarta, Palu, Semarang, Bengkulu, Indarmayu).

Merekalah Ahmad Zaki, Adi, dan (alm) Budi penggagas Punk Muslim. Pada tahun 2002 (alm) Budi menceritakan kegelisahannya kepada Zaki (cendikiawan Muslim), (alm) Budi merasa gelisah, karena hidupnya sudah lanjut dan menyadari dosanya sudah banyak sekali, dan ia tidak mau neraka dipenui oleh anak-anak punk, maka ia mengusulkan agar dibuat pengajian bagi anak-anak punk yang dipimpin oleh (alm) Budi. Pada tahun itu terbentuklah pengajian rutin yang selalu dilakukan hari Kamis, sehabis shalat Isya. Alhamdulillah, itu berjalan, namun tidak beberapa lama Budi meninggal, Zaki tidak patah arang, Adi pun mendampingi melanjutkan perjuangan Budi. Semakin lama, semakin banyak anak punk yang merapat kebarisan.

Perjalanan Punk Muslim bukanlah semudah membalik telapak tangan, sudah banyak sekali tragedi-tragedi yang mengiris hati untuk menegakkan Punk Muslim, karena keberdirian Punk Muslim membuat para punkers gerah, para punkers mengecam para punkers Muslim ini, bahkan hingga harus adu jotos oleh preman Pulo Gadung, mereka kalah. Walaupun begitu idealisme Punk Muslim mereka tidak akan pernah padam, inilah yang layak untuk dikatakan sebagai anak punk. Bahkan kegigihan mereka tergambarkan ketika mereka terpaksa kehilangan base camp yang mereka gunakan untuk mengaji, tidak ada rotan akar pun jadi, mungkin itulah yang membuat mereka terus bertahan. Ketika mereka tidak mempunyai base camp untuk mengaji, halte dan taman pun disulap menjadi tempat mengaji mereka.
Ambon, yang nama aslinya Dharma Putra, adalah salah satu anggota Punk Muslim yang berpendidikan pesantren. Sejak kecil, Ambon memang sudah terjun ke kehidupan jalanan, karena ada masalah internal dalam keluarganya. Walaupun sudah duduk di bangku pesantren, anak keturunan Kalimantan dan India ini tidak bisa meninggalkan dunia punk yang sudah mengalir di setiap aliran darahnya. Ambon pun sudah lelah berbuat maksiat, tapi dunia punk terus membawanya ke ‘sana’. Ambon pun memilih jalan tengah. Ia pun menjadi bagian dari Punk Muslim. Banyak lagi, seperti Asep, Otoy dan lainnya, walaupun ada dari mereka yang bertato, tapi mereka tetap menjunjung tinggi keislaman mereka, walaupun mereka menyesali di akhir dan takkan mengucilkan mereka untuk beribadah.

Kawan, jangan mengira anak-anak Punk Muslim berpakaian baju muslim, berpeci atau memakai jilbab. Tidak Kawan, penampilan boleh urakan, tapi hati tetap Muslim. Filosofi yang sangat mendasar dari Punk Muslim adalah hadis nabi yang berbunyi, “sampaikanlah walau satu ayat.” Walaupun mereka bertato, mereka mulai meninggalkan kebiasaan buruk mereka secara bertahap. “Yang dulunya lima botol, jadi tiga botol,” ucap Ahmad Zaki, selaku pembimbing Punk Muslim. Metode yang dilakukan Zaki bukanlah metode sapu jagad, tidak langsung mengatakan “Ini haram! Ini dosa!”, bukan itu cara berdakwah bagi anak jalanan, karena objek dakwah Zaki bukanlah orang yang bertipikal lembut, “Jika saya menggunakan cara itu, mereka pasti langsung kabur, nggak mau ngaji lagi,” ucap Zaki, “Di-Islamin, diurusin, dimandiin, disunatin, dikawinin dan dikuburin,” lanjut Zaki, sang penyejuk hati bagi para Punk Muslim.

Melejit dengan cepat, itulah perkembangan Punk Muslim, semakin lama semakin melebarkan sayapnya ke seluruh Indonesia, walaupun kecaman terus mengganggu telinga mereka. Kini Punk Muslim akan meluncurkan album ke-duanya, setelah album pertama yang bertajuk Anarchy In The Dark Soul. Para anggotanya pun sudah banyak yang menikah dan bekerja.

Harapan Punk Muslim tidak muluk-muluk, hanya ingin anak-anak punk mengetahui filosofi mereka sebagai manusia, makhluk yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Terserah kalian berasal dari latar belakang apa, aliran apa, menguikuti kegiatan apa, asalkan kalian jangan melupakan al-hak, sebagai pemeluk agama.

0 komentar:

... Profil ...

Foto saya
Makassar, Indonesia
... Kami hanya ingin hidup BEBAS tanpa ada penindasan dan tertindas ...

... Komunitas ...